| Abstract |
: |
Latar Belakang: Gangguan perdarahan uterus sebagai salah satu efek samping penggunaan kontrasepsi hormonal masih menjadi masalah penting karena meningkatkan angka putus pakai. Gambaran epidemiologis, genetis maupun persepsi terhadap gangguan perdarahan uterus pada pengguna kontrasepsi hormonal di Indonesia perlu diketahui untuk mendapatkan pendekatan solusi yang tepat.
Tujuan: Studi ini bertujuan untuk mengetahui beban permasalahan terkait gangguan perdarahan uterus pada pengguna kontrasepsi hormonal, dilihat dari tingkat genetis hingga epidemiologis.
Metode: Tiga langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dengan teknik Meta Analisis terhadap artikel penelitian kontrasepsi hormonal di Indonesia. Studi kedua adalah studi potong-lintang mengenai persepsi pengguna kontrasepsi hormonal terhadap menstruasi dan beban permasalahan perdarahan pada pemakaian kontrasepsi hormonal. Studi ketiga adalah studi genetis untuk mengetahui gambaran polimorfisme pada gen yang memetabolisme progesteron. Pengumpulan data dilakukan di Purworejo pada 130 subyek yang pernah mengikuti uji klinis kontrasepsi pil progesteron.
Hasil: Hasil Meta Analisis menunjukkan bahwa kejadian gangguan perdarahan terbanyak pada pengguna kontrasepsi hormonal adalah haid lebih sedikit, yaitu 40% (95% CI: 28-52). Pada pengguna pil progesteron saja (POPs), jenis perdarahan yang terbanyak adalah flek, yaitu sebesar 21% (95% CI: 12-32). Lebih dari separuh subyek berpersepsi tidak baik terhadap gangguan menstruasi yang dialaminya. Subyek dengan persepsi baik merupakan faktor protektif terhadap beban perdarahan berat (OR 0,36; 95% CI 0,13- 0,98). Distribusi genotip *1/*2 gen CYP2C19 mencapai 83% (95% CI: 74,94 - 89,81) dari seluruh subyek, sedangkan frekuensi genotip AG gen CYP3A4 hanya 5,6% (95% CI 2,65 – 12, 89). Tidak ada perbedaan proporsi genotip antara kelompok dengan gangguan perdarahan maupun kelompok tanpa gangguan perdarahan.
Kesimpulan: Gangguan perdarahan uterus pada pengguna kontrasepsi hormonal di Indonesia masih cukup tinggi, sedangkan wanita di Kabupaten Purworejo sebagian besar masih memiliki persepsi tidak baik tentang gangguan perdarahan yang dialaminya. Genotip *1/*2 gen CYP2C19 dilaporkan cukup tinggi, sedangkan genotip CYP3A4 relatif rendah, akan tetapi dalam penelitian ini belum terbukti adanya keterkaitan antara kejadian gangguan perdarahan uterus dengan polimorfisme gen CYP2C19 dan CYP3A4.
Kata Kunci: gangguan perdarahan uterus, kontrasepsi hormonal, CYP2C19, CYP3A4, Progestogen-only Pills, POPs |