ACADSTAFF UGM

CREATION
Title : Heritage BIM dengan Filosofi Memayu Hayuning Bawana pada Bangunan Bersejarah di Yogyakarta
Author :
Date : 0 2022
Abstract : Keistimewaan Yogyakarta diakui secara resmi melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012. Ada lima pilar yang dianggap menjadi ciri keistimewaan Yogyakarta yaitu pemilihan kepala daerah, pertanahan, tata ruang, kelembagaaan, dan kebudayaan. Dari lima pilar keistimewaan Yogyakarta, keistimewaan fisik adalah yang paling mudah diamati yaitu pertanahan, tata ruang, dan kebudayaan. Dalam hal kebudayaan, keistimewaan Yogyakarta dicirikan, salah satunya dengan berbagai bangunan lama yang memuat sejarah yang penting dan panjang. Perlindungan dan pemahaman terhadap bangunan bersejarah penciri keistimewaan sangat penting dilakukan. Menjaga keistimewaan Yogyakarta berarti juga menjaga keberadaan bangunan yang menjadi bagian dari kebudayaannya. Seperti halnya peradaban lain, peradaban keistimewaan Yogyakarta mengalami ancaman akan penurunan bahkan kepunahan. Perubahan tata ruang, alih fungsi lahan yang tidak terkendali dan terkikisnya bangunan bersejarah bisa menjadi awal degradasi keistimewaan. Di sisi lain, jika terus digali, dipertahankan dan dijaga, keistimewaan itu tidak saja bertahan tetapi bisa menjadi semakin tinggi nilainya. Penyingkapan situs-situs bersejarah yang menjadi penciri keistimewaan, revitalisasi tata ruang, dan pengaturan pemanfaatan lahan adalah beberapa hal yang bisa menguatkan keistimewaan Yogyakarta. Salah satu metode pemetaan geospasial yang akurat, detil, dan efisien adalah dengan menggunakan teknologi Laser Scanning, baik itu yang dilakukan secara Terrestrial (TLS) maupun Aerial (ALS). Dengan melakukan perekaman menggunakan TLS dan ALS, maka bangunan-bangunan kuno bisa direkam dengan baik dan akurat dalam waktu yang relatif singkat. Data ini merekam semua bagian tanpa kecuali. Data yang lengkap dan komprehensif ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Secara fungsi, bisa digunakan untuk aplikasi pelestarian bangunan bersejarah, untuk merencanakan tata ruang terpadu, dan tentu saja untuk kepentingan kebudayaan, terutama terkait bangunan dan situs bersejarah. Dengan kata lain, sekali pengambilan data maka bisa berguna untuk fungsi yang berbeda-beda. Hasil dari akuisisi data ini kemudian dimodelkan dalam suatu sistem informasi yaitu Building Information Modelling (BIM). Di dalam BIM, pengguna dapat melakukan eksplorasi secara 3D. Bahkan BIM juga memiliki kemampuan untuk menganalisa perubahan pada bangunan secara temporal apabila data diakusisi secara berulang. Berdasarkan pemaparan di atas, ada keterkaitan yang kuat antara pilar keistimewaan Yogyakarta (dalam hal ini pilar kebudayaan) dengan metode pemetaan Laser Scanning dan pemodelan BIM. Dengan memanfaatkan teknologi TLS dan ALS serta BIM, bangunan-bangunan bersejarah di Yogyakarta dapat direkam, didokumentasikan, serta dimodelkan secara 3D. Hal ini sejalan dengan tujuan pencegahan degradasi keistimewaan dan bahkan dapat meningkatkan nilai keistimewaan Yogyakarta apabila terus dikembangkan. Selain itu, kegiatan penelitian ini juga merupakan bentuk implementasi teknis UU nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, terutama pasal 13 ayat (2) yang menyatakan bahwa “Perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dilakukan dengan memperhatikan nilai sejarah dan keaslian bentuk serta pengamanannya”. “Memayu Hayuning Bawana” adalah sesanti Daerah Istimewa Yogyakarta untuk membangun daerahnya. Falsafah ini dapat diartikan sebagai upaya melestarikan kebudayaan dan sejarah di Yogyakarta. Hal ini sejalan dengan program yang akan dilakukan ini. Sebab, target utama dari program ini adalah pendokumentasian bangunan-bangunan bersejarah di Yogyakarta dalam bentuk model 3D dan Heritage BIM.
Group of Knowledge : Teknik Geodesi
Original Language : Bahasa Indonesia
Level : Nasional
Status :
Document
No Title Document Type Action