| Author |
: |
Endita Prima Ari Pratiwi, S.T., M.Eng., Ph. D. (1) Prof. Dr. Ir. Fatchan Nurrochmad, M.Agr. (2) Prof. Ir. Joko Sujono, M.Eng., Ph.D. (3) Ir. Rachmad Jayadi, M.Eng. Ph.D (4) |
| Abstract |
: |
Pintu pengambilan yang berada di bendung merupakan bangunan yang amat vital bagi pemenuhan kebutuhan air irigasi di daerah layanannya. Operasi pintu pengambilan, yang umumnya dilakukan dalam kurun waktu mingguan atau setengah bulanan sesuai dengan pedoman yang ada, merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha pertanian tanaman padi. Oleh karena itu, sebagai operator, juru bendung perlu mempunyai keterampilan dalam mengoperasikan pintu pengambilan. Iklim, khususnya hujan, menjadi salah satu faktor yang menjadi dasar pertimbangan juru bendung untuk membuka atau menutup pintu air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis seberapa besar pengaruh hujan terhadap operasi pintu pengambilan 2 bendung seri (Cokrobedog dan Gamping) yang telah dilaksanakan oleh juru bendung pada musim tanam tahun 2017/2018.
Bendung Cokrobedog dan Bendung Gamping merupakan bendung seri yang terletak di Sungai Bedog, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bendung Cokrobedog berada pada jarak 1 km di hulu Bendung Gamping. Kedua bendung tersebut mengairi daerah irigasi lintas Kabupaten Sleman-Bantul, dengan daerah layanan Bendung Cokrobedog seluas 194 ha dan bendung Gamping seluas 532 ha (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 14/PRT/M/2015). Pengolahan data dilakukan menggunakan metode Analisis Kuantifikasi I dengan tiga item yaitu hujan rata-rata Daerah Aliran Sungai (DAS), hujan rata-rata Daerah Irigasi (DI), dan debit sungai yang melimpas mercu bendung. Ketiga item tersebut selanjutnya disebut dengan item 1, item 2 dan item 3. Item 1 dan item 2 dibagi menjadi 5 kategori, sedangkan item 3 dibagi menjadi 2 kategori. Variabel tujuan adalah debit di pintu pengambilan bendung. Data hujan DAS diperoleh dari stasiun hujan Kemput, Angin-angin dan Beran, sedangkan data hujan DI diperoleh dari stasiun hujan Nyemengan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa juru Bendung Cokrobedog sangat mempertimbangkan debit Sungai Bedog yang mendapatkan suplesi dari Selokan Mataram (R = 0,819), sedangkan hujan yang jatuh di DAS (R = 0,725) maupun DI (R = 0,681) menjadi pertimbangan berikutnya. Di sisi lain, juru Bendung Gamping lebih mempertimbangkan hujan DAS (R = 0,546) dan hujan DI (R = 0,403) sebagai faktor yang mempengaruhi operasi pintu pengambilan dibandingkan debit melimpas bendung (R = 0,382). Kinerja juru bendung, baik di Bendung Cokrobedog maupun Bendung Gamping, dapat dinilai baik karena berdasarkan tiga item yang dipakai dalam analisis ini secara keseluruhan memberikan pengaruh yang sangat kuat (Rtotal = 0,8409 untuk Bendung Cokrobedog dan Rtotal = 0,7059 untuk Bendung Gamping) |